Skip to main content

Posts

Dan... Tentang Kehadirannya

Apakah kau pernah menerka, jika langkah kaki mu menuntun kau ke jalan sejauh ini Apakah kau pernah mengira, jika jalan panjang itu kini perlahan menyisakan sepenggal cerita Tentang sakit, tentang tawa, tentang harapan , tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang lelah , dan tentang semua hal yang mewarnai perjalananmu di sini. Tentang semua hal yang sebenarnya tak kau inginkan dan pikirkan untuk ada dan hadir, namun kini menyapa jiwa mu dengan santun dan penuh pengertian tentang kehadirannya, yang tak pernah terduga sebelumnya tentang kehadirannya, yang sedikit membuat langkah ini kembali berjalan pelan tentang kata yang tertahan dalam sukma yang enggan keluar tentang rindu yang tak terobati , dan hanya simbolis dalam doa Terkaanmu kini mulai tak beraturan, kenapa kau ini? diamkah? atau bagaimanakah? Perkiraanmu kini mulai bias dan tak terukur, ada apa dengan semua ini? atau hanya kau perlu mencobanya sekali lagi? Sejujurnya , dalam hatimu, kau berusaha ...

Teruntuk Anonim - Manusia yang Lelah dengan Perjuangannya

Mungkin kau akan bosan dengan semua hal ini. Ketika dirimu mulai tak menampakkan tanda-tanda lepas dari peliknya masalah yang menyelimut hati, jiwa dan ragamu. Ketika malam jauh lebih dingin kau rasakan, membuat tulang merasa tersunyut ujung jarum. Ketika dirimu mulai nampak bercucur keringat hanya untuk membela dan mempertahankan apa yang selama ini menurut dirimu adalah yang terbaik bagi orang lain, meski kadang hal tersebut sering bertentangan dan bahkan berusaha keras melawan nurani mu. Mungkin kau akan merasakan penat yang luar biasa. Ketika dirimu mulai memendam sakit dan perihnya luka yang ada dalam nurani mu itu. Mungkin kau berpikir, ini adalah jalan terbaik dalam mengabdi dan berserah diri dengan hal yang lebih massiv dan kolektif, ketimbang kau memuaskan diri dengan nafsu individu yang tak ber no rma. Kau mungkin tahu dirimu , kadang kebaikan mu yang sungguh tak terhingga ukurannya itu telah dimanfaatkan sejumlah oknum yang bermain begitu halus di sekitar kehidupan...

Hey, Apa kabar kau di sana ?

Hey, apa kabar kau di sana? Rasanya lama sudah retina mata ini tak melihat bias sosok mu Ku harap dirimu masih baik baik saja di sana Seperti terakhir kali kedua lidah ini mengucap dan memperjelas tentang semuanya Seperti ketika pertemuan yang tak sengaja ku sengajakan itu terjadi begitu saja Hey, apa kabar kau di sana? Rasanya lama sudah kiranya aku tak mendengar getar nada suara mu Ku harap dirimu masih mampu berucap sebaik apa yang kau ucapkan dulu Seperti terakhir kali kau menyadarkan ku tentang semua kekeliruan dan alpa ku Seperti ketika getar suara mu sayup ku dengar meski bukan tertuju untuk diriku Hey, apa kabar kau di sana? Rasanya lama sudah aku tak berpapasan denganmu Ku harap setiap jengkal ku menjauh dan menjauh, kau kan merasa jauh lebih bahagia Ku harap setiap puisi dan prosa tak bertema ini menjadi bukti kerisauan akan dirimu

Acak

Kini, semua nampak tak beraturan. Mencoba untuk menata nya dengan rapi namun justru aku menjatuhkannya lagi. Tak nampak sedemikian rusak memang, namun hal ini harus segera dihentikan. Tak selamanya waktu ini akan memainkan irama yang perlahan mulai menyapa dan mengetuk dalam diam. Aku hanya diam tercengang Perlahan memang semuanya tak seperti yang tergariskan. Himpunan titik - titik itu kini membuat garis, berliku tak beraturan. Titik titik tentang persinggahan dan pertemuan yang tak ada sapa di dalamnya. Titik-titik yang nampak pudar namun tetap aku coba menyatukannya. Hingga akhirnya akan terpisah lagi , lagi dan lagi.  Hem.. memang seperti ini adanya, seperti bola yang menggelinding di bidang miring. Gravitasi yang ditimbulkan mengalahkan gaya gesek yang terjadi. Gravitasi yang menarikku dengan santun namun penuh tarikan erat dan keras. Namun kadang aku terhenti karena gaya gesek yang kasar namun bermakna dalam. Entah sampai mana ku berhenti, di sini atau di sana Wa...

Pagi itu, di puncak bukit di desa tertinggi di Pulau Jawa

Tepat pukul 03.00 WIB alarm Handphone berbunyi nyaring memecah mimpi yang menggerumbuli alam pikiran dari tadi. Selimut tebal segera ku angkat dan dingin yang menusuk tulang pun menyeruak kuat. Dari atas kasur aku berjalan pelan ke kamar mandi dan mencuci muka,lalu berwudhu, luar biasa dingin, sungguh tak pernah ku rasakan dingin yang teramat seperti ini. Iya, pagi itu di Dieng, Dataran tinggi yang termasyur akan keindahan alamnya. Bergegas saya mempersiapkan barang-barang untuk melakukan pendakian "kecil" ke Bukit Sikunir, bukit yang  konon dari sana lah fajar terindah di se antero Jawa akan didapatkan, iya, orang-orang memanggilnya Golden Sunrise. Hem.. saya tak sendirian, bersama seorang sahabat saya akan melakukan perjalanan untuk menyaksikan keagungan Allah yang satu ini. Segera kami berangkat menuju Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Jalan menuju ke sana tak terlalu mulus, karena malam yang memberikan gelap, mungkin. Tapi juga karena dingin yang luar biasa ...

Barangkali senja tak mengijinkan

Barangkali senja sore ini tak mengijinkan untuk sekedar menebar benih bahagia dalam jiwa. Sembari pagi menyapa, mau tak mau setiap hari yang berharga terlalui. Sebuah makna yang teramat sulit untuk dimengerti, entah aku harus diam atau bicara, maka menulis menjadi pilihan melepas penat dalam sukma. Ah, sekalipun saya berusaha untuk berlari sejauh apapun, toh semuanya tetap sama kan? Ah, sepertinya tidak, mungkin dirimu saja yang katakan seperti itu pada hati dan pikirmu. Namun, hal itu tak kan sampai, tak akan pernah sampai. Memang gurat wajah ku tak seperti dulu, sudah terlalu banyak pemikiran yang membuat kerut muka bertambah seiring bertambahnya usia. Sedikit saya mengerti, namun banyak hal dan hikmah belum mampu terungkap. Kesabaran dan nafas yang terus dihembuskan ini seolah , perlahan , pelan mulai usang karena lorong ini begitu panjang. Gelap, kadang ada sinar yang menyapa, kadang ada sinar yang mengajak ke arahnya. Hem, namun semua tetap gelap. Keinginanku akan adanya sin...

Untuk dia yang entah tak tahu dia itu siapa

Pada akhirnya diam ini jadi cara, ketika tak ada lagi jalan yang bisa dipilih. Pada akhirnya luka ini akan tetap ada, entah sampai kapan kan ku simpan. Hingga sebait-dua bait pusi tak berima kutuliskan. Hingga kadang lagu tak ber melodi kunyanyikan. Dalam hening semua itu akan terjaga , semoga Ketika ingin hati berkata, ketika ingin sukma memeluk Maka biarkan canda dan senyum darinya jadi penawar Aku pun mengenal lelah, kala memang semua tak nampak Aku pun mengenal lelah, kala kaki berhenti melangkah Sejenak aku pun diam, bukan karena rasa ini terbungkus lalu ku buang Sejenak aku pun mengusap , mengelus dan merebah Pada akhirnya, jalan ini menjadi pilihan, iya pilihan Kadang ada yang menguatkan, kadang pula aku butuh untuk dikuatkan Mungkin sajak yang tak berima ini akan menghilang, melayang dan tak tentu arah Atau aku yang akan musnah, remuk dan butuh untuk dipapah Pada akhirnya diam ini jadi rindu, setumpuk – dua tumpuk kan menggores kalbu Ketika yang...