Skip to main content

Posts

Bakso Rusuk Gajah Mungkur Samanhudi

Jadi, beberapa hari yang lalu saya dengan teman-teman saya menghabiskan waktu seharian berkeliling Jakarta untuk mencoba beberapa kuliner yang ada di Jakarta. Setelah browsing dan mencari referensi melalui berbagai media sosial. Kami memutuskan untuk mengunjungi Kedai Bakso Gajah Mungkur di Jalan Samanhudi ini. Akses ke tempat ini pun terbilang cukup mudah, karena kita bisa naik KRL jurusan Jakarta Kota dan turun di Stasiun Sawah Besar untuk kemudian bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke kedai bakso satu ini. Oh ya selain itu, kita juga bisa berkunjung ke salah satu Kawasan Kuliner Pecenongan, yang mana merupakan salah satu kawasan kuliner tersohor di Jakarta. Selain itu juga dekat dengan kawasan wisata belanja Pasar Baru.  Waktu itu kami kesana naik Uber, karena kami sebelumnya dari Ketan Susu Kemayoran ( next mungkin akan post ini ). Tempatnya lumayan luas, ada sampai 20an nomor meja kalau tidak salah. Selain itu kedai ini juga buka 24 Jam gan !!, jadi kalo pe...

Sop Senerek Pak Parto Magelang

Beberapa bulan yang lalu saya dengan teman saya, si Arif, berkunjung ke Magelang. Memang tidak ada plan yang sangat matang, karena semuanya serba dadakan. Tujuan kami ke Magelang selain untuk main dan liburan sekaligus bertemu kedua orang teman kuliah yang rumahnya di Magelang. Alhasil, setelah menginap di kontrakan temen di Jogja, pagi harinya kami melanjutkan perjalanan ke Magelang. Kebetulan kami berdua memang belum sarapan dan sengaja untuk mencari sarapan yang khas di daerah Magelang. Akhirnya setelah browsing dan nanya mbah gugel serta nanya temen saya, saya memilih Sop Senerek. Baca- baca dari internet, Sop ini adalah warisan kaum Belanda, karena menggunakan kacang merah dalam sop nya. Pilihan kami jatuh pada Sop Senerek Pak Parto yang letaknya berada di dalam pasar (ga tau pasar apa, tapi dilihat-lihat seperti pasar tempatnya). Karena berada di dalam pasar, kamipun sempat 'keblasuk' (keblablasan), karena hanya berbekal Google Maps sebagai petunjuk arah. Akhirny...

Melepaskan

Malam ini. Dalam penuh harap aku menuliskan secarik cerita tentang cinta Tentan harapan anak manusia, berharap untuk kebaikan namun sulit untuk ditemuinya Tentang kasih dan sayang yang tak pernah ingin ada balas dalam setiap perilakunya Tentang ranum senyum memanja seseorang yang selalu membayangi nya Kau tak perlu tahu sejauh mana kalbu ini semakin merindu Kau juga tak perlu tahu sedalam apa aku menyimpan inginku Kau juga tak perlu tahu seberapa berdosa nya diriku yang berani mengukir indahmu dalam doaku Kau juga tak perlu tahu, desiran dzikir yang ku lantunkan hanya untuk menghindari bayangmu Kali ini aku benar benar melepasnya.  Benar benar melepasnya jauh ke atas sana Seraya berdoa yang ku iringi dengan dzikir agar aku tak semakin kikir Kali ini aku benar benar pergi dalam sepi untuk belajar mengikhlaskannya Seraya berharap, masih ada kebaikan yanmg menanti kita di sana Berharap pada perjumpaan yang bukan aku buat buat ada, tapi karena Allah lah k...

Jatuh

Tak sedikit ketika berjalan, dirimu akan tersandung Sama seperti perjalanan ini, gelap dan penuh marabahaya Sehingga diri ini menangis sesak dalam dada Karena diri ini tak hanya tersandung, namun jatuh , jatuh tersungkur Kejatuhan demi kejatuhan perlahan diri ini lalui Sudah tak tahu seberapa banyak luka Sudah tak peduli berapa deras air mata yang mengalir Kejatuhan demi kejatuhan itu semakin menyayat duka Hingga, akhirnya dalam gelap, dalam kejatuhan Diri ini mulai merangkak, mulai mencoba berjalan dan berlari Menembus kegelapan yang pekat sangat pekat Namun, sayang, diri ini terjatuh lagi , lagi dan lagi Nafas semakin menipis seiring diri ini mencoba bangkit Otot-otot mulai melemas sejalan ku coba kuatkan pijakan Sinar mata mulai bias sesaat ku coba untuk mencari cahaya Lidah kelu bukan main, saat ingin bertanya dan berdoa Jatuh, tersungkur Hilang, terlupakan Mungkin adalah takdir terperih namun terbaik bagi diri Ah, siapa yang tahu, karena kejatuhan membuat di...

Aku, adalah ...

aku, adalah kebohongan penuh dengan fatamorgana kata hingga jalanku goyah tak karuan kemana dan kemana aku, adalah kehilangan penuh dengan sesak tangis hingga nafasku tersengal perlahan lepas dan lepas aku, adalah kerinduan penuh dengan doa dan harapan hingga waktu menjadi jembatan kesana dan kesana aku, adalah kesepian penuh dengan kekosongan hingga malam dingin menghujam dalam dan dalam lalu aku bertanya, siapa aku lantas aku bertanya, dimana aku sungguhpun senja dan fajar berlalu aku tetaplah aku

Simpang Lima Gumul, Arc de triomphe - nya Kediri - Trip Libur Lebaran Part Three

Ini adalah rangkaian terkahir perjalanan libur lebaran kemarin, lama banget post nya, karena saya dua minggu ini berkutat dengan UAS. Jadi daripada tidak di post, sekalian saja lah.. Setelah dari Bendungan Wonorejo, emm.. By the way ternyata Bendungan Wonorejo merupakan salah satu waduk terbesar di Indonesia (baru tahu juga sih). Kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kediri. Kami menempuh perjalanan bermotor kurang lebih 1-2 jam kalau tidak salah. Tujuan kami selanjutnya adala Simpang Lima Gumul, sebuah tempat ikonik di Kediri, di mana di sana terdapat sebuah landmark yang mirip dengan Arc de triompe di Paris, Perancis. Akhirnya setelah melakukan perjalan bermotor yang ditemani rasa kantuk. haha.. kami sampai juga di Simpang Lima Gumul, waktu itu rame banget dan panas sekali, -_-

Bendungan Wonorejo, Tulungagung - Trip Libur Lebaran Part Two

Nah, setelah sebelumnya saya dan teman- teman melakukan perjalanan ke Pantai Pathuk Gebang, Tulungagung dan menginap di rumah salah seorang saudara teman saya, paginya kami segera mempersiapkan diri untuk menuju destinasi berikutnya, yakni, Kediri. Setelah mengatur ulang rencana kami, ada salah satu teman yang memberikan ide untuk mengunjungi Bendungan Wonorejo terlebih dahulu, karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, kurang lebih 30 menit. Akhirnya setelah semuanya setuju, kami berpamitan dan segera menuju bendungan tersebut. Persiapan berangkat lagi nih